STRATEGI PEMBELAJARAN EKSPOSITORI
BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Kata belajar sering
juga diistilahkan dengan didaktik “didaskein” yang diambil dari bahasa
Yunani yang berarti perbuatan yang menyebabkan timbulnya kegiatan dan kecakapan
baru pada orang lain.[1] Dalam
bahasa Inggris disebut dengan learning yang di terjemahkan dengan
belajar. Dalam terminologi Arab juga kita dapatkan istilah atta’lim
yaitu suatu proses tranformasi ilmu dari seseorang kepada orang lain, yang
tentunya dapat kita simpulkan dengan istilah
mengajar.
Agar proses transpormasi ilmu dapat berjalan
dengan baik, maka tentu membutuhkan strategi. Secarara
umum menurut Abu ahmadi strategi mempunyai pengertian sebagai suatu garis
berhaluan dalam bertindak untuk mencapai sasaran yang telah di tentukan. Dengan
demikian dalam pandangannya jika dihubungakan dengan belajar setrategi bisa diartikan
sebagai pola umum kegian murid-murid dalam perwujudan kegiatan belajar mengajar
untuk mencapai tujuan yang telah digariskan.[2]
Namun tidak
semu strategi pembelajaran dapat dijalankan dalam setiap proses belajar
mengajar, sebab ketidak tepatan dalam memilih sterategi, justru menjadi faktor
pemhambat. Seperti yang dikatan oleh Mulyono Abdurrahman prestasi seseorang
dalam belajar paling tidak di pengaruhi oleh dua faktor utama yaitu internal
dan esternal. Dimana ekternal yang dia maksuda adalah sterategi pembelajaran
yang di tempuh oleh seorang guru dalam mengajarkan ilmunya.[3]
Dengan demikian
pemilihan strategi pembelajaran menjadi sangant penting. Karena itu dalam
makalah ini penulis membahsa tentang salah satu strategi pembelajaran dari
sekian banyak strategi yaitu strategi ekspositori. Dalam pembahasan ini penulis
mengupas tentang pengertian, langkah-langkah melakukan pembelajaran ekpositori,
kelebihan dan kekurangannya.
BAB II
PEMBAHASAN
A. PENGERTIAN STRATEGI EKSPOSITORI
Strategi
pembelajaran ekspositori adalah suatu proses pembelajaran dimana seorang guru
langsung menyampaikan materi secara langsung dari seorang guru kepada muridnya
dengan tujuan simurid dapat menguasai pelajaran secara optimal.[4]
Penggunaan
metode ini didasarkan pada paradigma bahwa siswa yang diajar masih kosong dari
ilmu yang akan transfer oleh guru kepada muridnya,[5]oleh
karenanya seorang guru yang menggunakan stretegi ini lebih banyak menganndalkan
kemampuan dalam berbicara dengan sistimatik. Sebab itu Strategi pembelajaran ekpositori
banyak yang menganalogikannya dengan metode ceramah.
Dengan demikian
dapat kita katakan strategi pembelajaran ekspositori merupakan pendekatan
pembelajaran yang bisa kita golongkan sebagai “techer centred” yaitu
strategi pemberlajan yang memfokuskan informasi bersumber dari guru yang
artinya gurulah yang menjadi sumber ilmu pengetahuan dalam strategi ini.
Dikatakan demikian sebab gurulah yang paling dominan. Dengan straregi ini
seorang menyampaikan materi secara terstruktur tentu dengan harapan materi
dapat di terima oleh siswa dengan baik.
B.
KARAKTERISTIK
PEMBELAJARAN EKSPOSITORI
Sama halnya
dengan strategi pembelajaran yang lainnya, strategi pembeljaran ekspositori
juga mempunyai karakteristik diantaranya:
1.
Strategi ekspositori dilakukan dengan
penyampaian materi secara verbal. Ini artinya kemampuan guru bertutur kata
dalam menyampaikan meteri menjadi andalan utama, karena itu orang sering
menganalogikannnya sebagai metode cerama.
2.
Materi yang diajarkan adalah materi yang sudah
jadi, seperti pakta dan data, atau konsep-konsep tertentu yang harus
dihafalkan, sehingga para peserta didik tidak lagi di tugaskan untuk mencari
dalam sumber lainnya.
3.
Tujuan pembelajaran dengan Strategi ekspositori
adalah siswa memiliki pemahaman yang benar dengan materi yang disampaikan dan
mampu menguraikan kembali.[6]
C.
PRINSIP
PEMBELAJARAN EKSPOSITORI
Dalam
penggunaan model ekspositori terdapat prinsip pembelajaran yang harus di
perhatiakan oleh setiap guru antara lain:
1.
Berorientasi pada tujuan
Walaupun
penyampaian materi pelajaran secara langsung yang menjadi ciri utama dalam
stretegi ini, namun tidak bermakna tujuan pembelajaran menjadi terabaikan akan
tetapi menjadi salah satu pokok pertimbangan. Karena itu seorang guru harus
merumuskan tujuan pembelajaran yang harus dicapai dengan menggunkan Strategi
ekspositori seperti keriteria tingkah laku yang dapat di ukur dan kompetensi
siswa yang akan dicapai oleh siswa.[7]
2.
Prinsip komunikasi
Proses
pembelajaran dapat dikatan sebagai proses komunikasi yang merujuk pada proses
penyampaian pesan dari seseorang (guru) kepada seseorang atau sebuah kelompok yang
dalam hal ini adalah murid. Pesan yang dimaksud dalam komunikasi ini adalah
materi pelajaran yang telah disusun secara terstruktru rapi dengan landasan
tujuan yang hendak dicapai. Sehingga gurulah dalam hal ini yang menjdi sumber
pesan dan siswa yang menjadi penerima pesan. Sistem komunikasi dikatan efektif
jika sipenerima pesan dapat menangkap pesan dengan utuh, oleh karena itu, dalam
perinsip komunikasi ini, seorang guru harus mampu menghilangkan gangguan
komunikasi antara mereka.[8] Beberapa
faktor yang dapat menggangu penerimaan siswa bisa bersumber dari guru, seperti
kemampuan menjelaskan materi kurang baik, jumlah siswa yang terlalu banyak,
ruangan yang terlalu ribut dan lain-lain.[9]
3.
Prinsip kesiapan
Dalam
prinsip ini seorang guru berkewajiban menyipakan siswanya terlebih dahulu untuk
menerima pesan atau materi baik yang berkaitan dengan fiskik atau fisikis.
Sebab itu seorang guru tidak boleh memulai pembelajaran jika siswa belum siap
untuk memulianya. Guru harus yakin bahwa anak sudah memiliki memori mori untuk
diisi dengan mater pelajaran, dalam hal ini Wina sanjaya menganalogikannya
dengan sebuah komputer yang akan di isi oleh file, maka sebuah komputer harus
memiliki memori yang kosong untuk menyimpan file yang akan dimasukkan. [10]
4.
Prinsip keberlanjutan
Pada
prinsip ini penggunaan strategi ekspositori diharahapkan siswa dapat
mempelajari materi pelajaran lebih lanjut. Pembelajaran bukan hanya pada saat
terjadi pertemuan antara siswa dan guru tetapi setelah itu diharapkan siswa
dapat melakukan pencarian sendiri secara aktif.[11] Seperti yang disampaiak Wina Sanjaya bentuk
keberhasilan strategi ekspositori adalah manakala melalui proses penyaian dapat
membawa siswa pada sikap yang mandari sehingga ia dapat belajar secara mandiri.[12]
D.
PROSEDUR
PELAKSANAAN STRATEGI EKSPOSITORI
Menurut Wina
Sanjaya, ada beberapa langkah dalam penerapan strategi Ekspositori yaitu:
1.
Persiapan (prepration)
Pada tapan ini seorang guru harus menyiapkan
siswanya baik secara pisik dan fisikis, dalam pembelajaran dengan strategi
ekspositori, tahapan persiapan merupakan tahapan yang sangat penting, sebab itu
Sanjaya menganjurkan dalam tahapan ini hendaknya seorang guru membangkitkan
motivasi siswa dengan memberikan sugesti yang positif.[13] Sebab
motovasi seperti yang disebutkan oleh Pupuh dapat berfungsi sebagai pendorong
untuk berbuat lebih.[14]
Selain pemberian motivasi, pada tahapan
persiapan dianjurkan bagi guru untuk menyampaikan tujuan pembelajaran yang
hendak dicapai. Dengan itu siswa akan mengerti apa yang akan mereka capai
setelah mereka selesai belajar serta mau kemana mereka akan dibawa oleh guru.
Dalam pandangan Sanjaya ini sangat penting dan hal ini juga yang banyak
dilupakan oleh para guru.[15]
Selanjutnya yang harus dilakukan oleh seorang
guru adalah membuka pengetahun siswa yang lama dan mengaitkannya dengan
pengetahuan baru yang akan disampaikan oleh guru. Sebab jika seorang guru
menyampaikan pelajaran yang baru dan sama sekali asing bagi anak, maka anak
akan kesulitan untuk menangkap materi yang diajarkan. [16]
2.
Penyajian (presentation)
Penyajian merupakan langkah penyampaian materi
pelajaran sesuai dengan yang telah dipersiapkan oleh guru. Yang harus
diperhatikan oleh seorang guru adalah bagaiman agar materi pelajaran samapi
kepada siswa dan ditangkap dengan baik dan dapat dipahami dengan mudah. Oleh
karena itu ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam tahapan ini.
a.
Penggunaan bahasa
b.
Intonesi suara
c.
Menjaga kontak mata dengan siswa
d.
Menggunakan jok-jok yang menyegarkan. [17]
3.
Menghubungkan (correlation)
Langkah korelasi adalah langkah menghubungkan
materi pelajaran dengan pengalaman siswa atau dengan hal lain yang memungkinkan
siswa dapat menangkap keterkaitannya dalam struktur pengetahuan yang dimiliki.
Selain itu korelasi juga bertujuan memberikan makna terhadap pelajaran, baik
makna untuk memperbaiki struktur pengetahuan yang telah dimilikinya ataupun
makna untuk meningkatkan kualitas kemampuan berfikir dan kemampuan motorik
siswa.[18]
4.
Menyimpulkan (generalization)
Langkah menyimpulak adalah langkah untuk
memahami inti, sehingga dalam tahapan ini siswa diharapkan dapat memaknai inti
dari sebuah pelajaran yang disajikan oleh siswa. Selain itu menyimpulkan juga
meberikan keyakinan kepada siswa tentang kebenaran suatu paparan sehingga para
siswa tidak ragu dengan materi yang telah disampaikan. Sanjaya berbpendapat ada
beberapa cara untuk menyimpulkan sebuah pelajaran. Pertama dengan cara
mengulang kembali inti-ini pokok sebuah pelajaran. Kedua dengan memberikan
pertanyaan yang relevan dengan materi yang disajikan.[19]
5.
Penerapan (aplication)
Langkah aplikasi adalah langkah untuk
menunjukkan kemampuan siswa setelah mereka menyimak penjelasan guru. Langkah
ini merupakan langkah yang sangat penting sebab dengan langkah ini seorang guru
dapat mengumpulkan informasi tentang penguasaan dan pemahaman materi oleh siswa.
Teknik yang bisa dilakukan dalam tahapan ini adalah pertama dengan
memberikan tugas yang sesui dengan materi yang telah diajarkan. Kedua
dengan memberikan tes dengan pelajaran yang telah disajikan.[20]
E.
KEUNGGULAN DAN
KELEMAHAN METODE EKSPOSITORI
1.
Keunggulan
Starategi pembelajaran ekpositori merupakan
strategi pembelajaran yang paling banyak dan sering digunakan, hal ini
disebabkan strategi ini memiliki keunggulan diantranya:
a. Dengan setrategi ini seorang guru dapat
mengontrol keluasan materi yang diajarkan, dengan demikian guru dapat megetahui
seberapa jauh seorang murid telah menguasai pelajaran.
b. Setrategi ini
sangat efektif untuk materi pelajaran yang harus dikuasai oleh siswa sangat
luas, sementara waktu yang yang dimiliki untuk mengajarkannya sangat terbatas.
c. Dapat
dipergunakan untuk jumlah siswa yang sangat banyak.[21]
2.
Kelemahan
Menurut Muchlisin Riadi ada beberapa kelemahan
yang ditemukan dlam penggunaan metode ekspositori diantranya:
a.
Strategi belajar mengajar ekpositori mungkin
dapat dilakukan hanya pada siswa yang memiliki kemampuan mendengar dan menyimak
secara baik.
b.
Srategi pembelajaran ini tentu kurang dapat mengakomodir
perbedaan karakter setiap individu, baik perbedaan kemampuan, minat, pengetahuan,
bakat serta perbedaan gaya belajar siswa.
c.
Strategi
ini tidak mampu utnuk mengembangkan kemampuan siswa dalam kemampuan
sosialisasi, hubungan interpersonal dan kemampuan kritis.
d.
Keberhasilan strategi ini sangat tergantung
pada guru seperti persiapan, pengetahuan, rasa percaya diri, semangat, antusias
serta kemampuan mengolah kelas.
e.
pengetahuan yang dimiliki siswa akan tergantung
pada apa yang diberikan oleh guru saat proses belajar mengajar. Sebab metode
pembelajaran ini hanya berjalan monolog.[22]
KESIMPULAN
Strategi
ekpositori sesungguhnya sebuah metode yang telah lapa dipake oleh setip
pengajar, bahkan ia terkadang digabungkan dengan metode lain. Seperti halnya
dengan strategi pembelajaran yang lainnya, strategi ekspositori juga memiliki
prinsip-prinsip, prosedur, kelebihan-kelebihan dan kekurangan-kekurangan
seperti yang telah dipaparka. Strategi ekspositori sejatinya hanyalah sebuah
strategi dari sekian banyak strategi yang ada. Maka pengemasan, perencanaan dan
penyampaina dan pelaksanaannya terpulang pada guru itu, gurulah yang mengetahui
strategi mana yang tepat pada waktu tertentu, dan strategi mana yang tepat pada
waktu dan keaadaan tertentu.
DAFTAR PUSTAKA
Team didaktik metodik, Pengantar Didakti Metodik Kurikulum PBM .
Jakarta: PT. Grafindo Persada 1993 Cetakan ke 5.
Ahmadi, Abu. Joko Tri Prasetya, Strategi Belajar Mengajar. Bandung:
Pustaka Setia, 2005.
Abdurrahman, Mulyono. Anak kesulitan Belajar, Teori, Diagnosis
dan Remediasinya. Jakarta: PT. Rineka Cipta, 2012.
Apa Itu Ekspository Learning, www.blog-guru.web.id diakses pada tanggal 25 April 2016 pukul 21. 56 wib.
Khairani, Kisma Nst. (2014) Hubungan Strategi Pembelajaran Ekspositori Terhadap Motivasi
Belajar Intraksi Sosial dan Komunikasi
Matetamatika Siswa Kelas VII SMP Negeri I Siabu. Skripsi. Tidak Dipublikasikan.
Padangsidimpuan: IAIN Padang Sidimpuan
Sanjaya, Wina. Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses
Pendidikan. Jakarta: Kencana 2006.
Fathurrohman, Pupuh. M Sobri Sutikno, Strategi Belajara Mengajar
Melalui Penanaman Konsep Umum dan Konsep Islam, (Bandung, PT Refika
Aditama, Cetakan Keenam, 2014)
Kusmayanto, Penerapan Pembelajaran Dalam Meningkatkan Kualitas
Kegiatan Belajar Mengajar, www.kemenag.go.id
diakses pada tanggal 27 bualan April 2016 Pukul 21.32 wib
[1] Team didaktik
metodik, Pengantar Didakti Metodik Kurikulum PBM, (Jakarta: PT. Grafindo
Persada 1993) Cetakan ke 5, hlm. 1
[2] Abu Ahmadi,
Joko Tri Prasetya, Strategi Belajar Mengajar, (Bandung: Pustaka Setia,
2005) hlm.11
[3] Mulyono
Abdurrahman, Anak kesulitan Belajar, Teori, Diagnosis dan Remediasinya
(Jakarta: PT. Rineka Cipta, 2012), hlm. 8
[4] Kisma Khairani
Nst, (2014) Hubungan Strategi
Pembelajaran Ekspositori Terhadap Motivasi Belajar Intraksi Sosial dan
Komunikasi Matetamatika Siswa Kelas VII
SMP Negeri I Siabu. Skripsi.
Tidak Dipublikasikan. Padangsidimpuan: IAIN Padang Sidimpuan
[5] Apa Itu
Ekspository Learning, www.blog-guru.web.id diakses pada
tanggal 25 April 2016 pukul 21. 56 wib.
[6] Wina Sanjaya, Strategi
Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan, (Jakarta: Kencana 2006), hlm.179
[7] Wina Sanjaya, Strategi
Pembelajaran...,hlm.181
[8] Wina Sanjaya, Strategi
Pembelajaran...,hlm.182
[9] Pupuh
Fathurrohman, M Sobri Sutikno, Strategi Belajara Mengajar Melalui Penanaman
Konsep Umum dan Konsep Islam, (Bandung: PT Refika Aditama, Cetakan Keenam,
2014), hlm. 92
[10] Wina Sanjaya, Strategi
Pembelajaran...,hlm.182
[11] Kusmayanto, Penerapan
Pembelajaran Dalam Meningkatkan Kualitas Kegiatan Belajar Mengajar, www.kemenag.go.id diakses pada tanggal 27 bualan April 2016 Pukul 21.32 wib
[12] Wina Sanjaya, Strategi
Pembelajaran...,hlm.183
[13] Wina Sanjaya, Strategi
Pembelajaran...,hlm.185
[14] Pupuh
Fathurrohman, M Sobri Sutikno, Strategi Belajara Mengajar ...,hlm. 20
[15] Wina Sanjaya, Strategi
Pembelajaran...,hlm.185
[16] Wina Sanjaya, Strategi
Pembelajaran...,hlm.187
[17] Wina Sanjaya, Strategi
Pembelajaran...,hlm.188
[18] Wina Sanjaya, Strategi
Pembelajaran...,hlm.189
[19] Wina Sanjaya, Strategi
Pembelajaran...,hlm.190
[20] Wina Sanjaya, Strategi
Pembelajaran...,hlm.190
[21] Wina Sanjaya, Strategi
Pembelajaran...,hlm.191
[22] Wina Sanjaya, Strategi
Pembelajaran...,hlm.192