Senin, 21 November 2016


             BINEKA TUNGGAL IKA SEBAGAI PILAR KEBANGSAAN
 
John Naisbit meramalakan pada abad 21 akan banyak lahir negara-negara baru, bahakan dalam prediksinya bisa mencapai seribu negara.[1] Perediksi ini mungkin saja bisa tepat dan mungkin juga bisa meleset. Namun yang paling penting adalah hal-hal yang menjadi penyebebab perediksi ini terjadi sudah muncul dihadapan kita. Perpecahan negara-negara besar, seperti Unisovyet, dan negara-negara lainnya menjadi contoh yang nyata.
Dalam kaitannya dengan bangsa Indonesia, kemungkinan terpecahnya kedalam negara-negara kecil sangat besar, sebuah kenyataan Indoneisa terdiri dari kolektifitas masyarkat yang bersifat majemuk. Dari segi etnis saja di Indonesia terdapat 656 suku, dengan tidak kurang dari 300 jenis bahasa daerah dengan 5 pulau besar dan ribuan pulau kecil[2] yang kesemuanya menempatkan Indonesia bangsa yang paling multikulturalisme di dunia. Mengantisipasi hal tersebut kesadaran tentang pilar negar yang mengakomodasi nilai perbedaan budaya harus lebih di tingkatkan.
Dari hal yang diatas penghayatan dan penagamalan “Binneneka Tungal Ika” sebagai pilar negara tidak bisa di tawar-tawar lagi. Menelusuri jauh kebelakang sejarahnya “Bineka tunggal ika” pertemakali dapat kita dijumpai dalam naskah “sutasoma” yang ditulis oleh Mpu Tantular saat Raja Hayam Wuruk menjadi penguasa kerajaan Maja Pahit (1350-1389)[3] . Yang kemudian penggalan Semboyan tersebut dipetik oleh Prof Muh. Yamin dan disahkan sebagai semboyan Negara Republik Indonesia pada Tanggal 17 Agustus 1950.[4]
Semboyan bineka tunggal ika yang merupakan hasil renungan mendalam Mpu Tantular mengenai ke-Esaan Tuhan. Pandangan adanya kesatuan dalam keagamaan itu, tidak hanya terdapat dalam kerukuan ummat beragama saja, akan tetapi juga terdapat dalam cita-cita politik kenegaraan pada saat itu. [5] Perumusan Bhinneka Tunggal Ika oleh Mpu Tantular pada dasarnya adalah sebuah upaya mengatasi keragaman kepercayaan keagaamaan saat itu yang berhubungan dengan usaha-usaha kerajaan Maja Pahit waktu itu. Bhudda dan Hindu sebagai agama resmi, saling berebut pengaruh dan bertentangan. Hindu lebih bebas menyebarkan agam sedangkan Budha dibatasi hanya pada daerah-daerah tertentu saja.
Untuk menghindari pertentangan yang bisa merusak dan bisa menimbulkan situasi yang tidak menguntungkan bagi kerajaan Maja Pahit, Raja Sanagara memerintahkan Mpu Tantular untuk mengubah kakawni sutasoma sebagai sebuah doktrin kerajaan tetang toleransi beragama di lingkuangan kerajaan Maja Pahit antara Hindu dan Budha.[6]
Dengan bercermin pada fakta sejarah itulah, semboyan Bhinneka Tunggal Ika telah memberikan inspirasi terhadap sistem pemerintahan jaman kemerdekaan sehingga dijadikan falsafah perjuangan para perintis kemerdekaan bangsa Indonesia[7]. Puncaknya pada tanngaal 28 oktober 1928 para pemuda dari berbagai kelompok kesuku bangsaan di Indonesia bersupah akan adanya bangsa yang satu, bahasa yang satu, dan tumpah darah yang satu.
Pada tahun 1951 berkisar lima ratus tahun setelah pertama kali semboyan Bhinneka Tunggal Ika di ungkapkan oleh Mpu Tantulr, ditetapkan oleh Pemerintah Indonesia sebagai semboyan resmi negara melalui Peraturan Pemerintah No.66 Tahun 1951. Peraturan pemerintah tersebut menentukan bahwa sejak 17 Agustus 1950, Bhinneka Tunggal Ika di tetapkan sebagai semboyan yang terdapat dalam lambang Negara Republik Indonesia Garuda Pancasila. Yang kemudian kata “Bhinna Ika” dirangkai menjadi satu kata “Bhinneka”. Pada perubahan UU 1945 yang kedua, Bhinneka Tuggal Ika dikukuhkan sebagai semboyan resmi yang terdapat dalam lambang negara, dan tercantum dalam pasal 36a UUD 1945.[8]
Dalam kontek berbangsa, nilai-nilai yang tertanam dalam kakawin sutasoma sudah diperaktekkan sejak dulu dan bahwa keragaman yang dimiliki bangsa Indonesia harus dipelihara dengan baik kerena merupakan identitas bangsa. Karena itu untuk memahami dan menjalankannya, di perlukan pengetahuan mengenai prinsip-prisnsip yang terkandung dalam Bhinneka Tunggal Ika. Seperti yang di ungkapakan oleh Sony paling tidak ada 4 prinsip yang harus dipahami yaitu:
1.      Dalam rangka membentuk kesatuan dari keaneka ragaman tidak terjadi pembentukan konsep baru dari keanekaragaman konsep-konsep yang terdapat pada unsur-unsur atau komponen bangsa. Tetapi dengan ketungaal Bhinneka Tunggal Ika di temukan pokok-pokok dasar yang menjadi pemersatu. Dengan demikian setiap agama diakui seperti apa adanya dan dijamin kebebasannya dalam melaksakan ibadah, dalam kehidupan beragama di Indonesia maka dicari Common denominator, yakni prinsip-prisip yang ditemui dari setiap agama yang memiliki kesamaan, dan ini yang menjadi pegangan utuama kita sebagai ketunggalan untuk kemudian di pergunakan sebagai acuan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Demikian juga dengan adat serta budaya suatu daerah, tetap diakui eksistesinya oleh negara yang berwawasan kebangsaan.
2.      Bhinneka Tunggal Ika tidak bersifat sektarian dan eksklusif, hal ini bermakna bahwa dalam kehidupan berbangsa dan bernegara tidak dibenarkan merasa dirinyalah yang paling benar, paling hebat, dan tidak mau mengakui harkat martabat pihak lain. Pandangan sektarian dan eksklusip ini akan memicu terbentuknya keakuan yang berlebihan dengan tidak memperhitungkan pihak lain, dan akan memupuk kecurigaan, kecemburuaan dan persaingan yang tidak sehat. Bhinneka Tunggal Ika bersifat inklusif yang bermakna golongan yang paling banyak dalam kehidupan berbangsa dan bernegara tidak memaksakan kehendaknya pada golongan minoritas.
3.      Bhinneka Tunggal Ika tidak bersifat formalistis yang hanya menunjukkan perilaku semu, akan tetapi ia dilandasi sikap yang saling percaya mempercayai, saling hormat menghormati, saling cinta mencintai dan hidup dalam keadaan rukun, hanya dengan cara demikian maka keaneka ragaman dapa di persatukan.
4.      Bhinneka Tunggal Ika bersifat konvergen bukan di vergen, yang bermakna perbedaan yang dimiliki dalam keragaman tidak untuk dibesar-besarkan, akan tetapi di cari titik temu dalam bentuk kesepakatan bersama. Hal ini akan terwujud apabila dilandasi oleh sikap toleran, non sektarian, inklusif, akomodatif dan rukun.[9]

Denga pemahaman akan prinsip-prinsip ini penghayatan tentang kemultikulturan yang terkandung dalam nilai nilai Bhinneka Tunggal Ika dapat dilaksanakan seluruh bangsa Indonesia dalam ruang lingkup bersmasyarakat dan bernegara.


[1] Choirul Mahfud, Pendidikan Multikultural, ( Yokyakarta: Pustaka Pelajar, Cetakan ke VI 2013), hlm. vii
[2][2] Faris Ihasan, Multikulturalisme dan Disentegrasi dan Persfektif ke Indonesiaan, www.bkddiklat.ntbprov.go.id diakses pada tanggal 20 Mei 2016 pukul 17.33 wib
[3] Akhmad Solihin, Pengertian Bhinneka Tunggal Ika, www.visuiniversal.blogspot.com diakses pada tanggal 14 Mei 2016 pukul 11.26
[4] Akhmad Solihin, Pengertian Bnika Tunggal Ika, www.visuiniversal.blogspot.com diakses pada tanggal 14 Mei 2016 pukul 11.26
[5] Akhmad Solihin, Pengertian Bnika..., www.visuiniversal.blogspot.com diakses pada tanggal 14 Mei 2016 pukul 11.26
[6]Mohammad Imam Farisi, Ekstrapolasi Konsep Binneka Tunggal Ika Sebagai Doktrin Politik Kerajaan Dalam Ranah Pendidikan, Jurnal Pendidikan dan Pengajaran, Jilid 46, Nomor 3 Otober. Hlm.193-205
[7] Sejarah Bhinneka Tungaal Ika, www.idsejarah.net/2014/01 diakses pada tanggal 16 Mei 2016 Pukul 21.09 wib.
[8] Sony (Lembaga Pengkajian dan Pengembangan Kehidupan Bernegara), Empat Pilar Kehidupan Berbangsa dan Bernegara, www.lppkb.wordpres.com diakses pada tanggal 18 Mei 2016 pukul 07.52 wib
[9] Sony (Lembaga Pengkajian dan Pengembangan Kehidupan Bernegara), Empat Pilar Kehidupan Berbangsa dan Bernegara, www.lppkb.wordpres.com diakses pada tanggal 18 Mei 2016 pukul 07.52 wib

Minggu, 31 Juli 2016



 STRATEGI PEMBELAJARAN EKSPOSITORI


BAB I

PENDAHULUAN

  

A.    LATAR BELAKANG

Kata belajar sering juga diistilahkan dengan didaktik “didaskein” yang diambil dari bahasa Yunani yang berarti perbuatan yang menyebabkan timbulnya kegiatan dan kecakapan baru pada orang lain.[1] Dalam bahasa Inggris disebut dengan learning yang di terjemahkan dengan belajar. Dalam terminologi Arab juga kita dapatkan istilah atta’lim yaitu suatu proses tranformasi ilmu dari seseorang kepada orang lain, yang tentunya dapat kita simpulkan dengan  istilah mengajar.
Agar proses transpormasi ilmu dapat berjalan dengan baik, maka tentu membutuhkan strategi. Secarara umum menurut Abu ahmadi strategi mempunyai pengertian sebagai suatu garis berhaluan dalam bertindak untuk mencapai sasaran yang telah di tentukan. Dengan demikian dalam pandangannya jika dihubungakan dengan belajar setrategi bisa diartikan sebagai pola umum kegian murid-murid dalam perwujudan kegiatan belajar mengajar untuk mencapai tujuan yang telah digariskan.[2]
Namun tidak semu strategi pembelajaran dapat dijalankan dalam setiap proses belajar mengajar, sebab ketidak tepatan dalam memilih sterategi, justru menjadi faktor pemhambat. Seperti yang dikatan oleh Mulyono Abdurrahman prestasi seseorang dalam belajar paling tidak di pengaruhi oleh dua faktor utama yaitu internal dan esternal. Dimana ekternal yang dia maksuda adalah sterategi pembelajaran yang di tempuh oleh seorang guru dalam mengajarkan ilmunya.[3]
Dengan demikian pemilihan strategi pembelajaran menjadi sangant penting. Karena itu dalam makalah ini penulis membahsa tentang salah satu strategi pembelajaran dari sekian banyak strategi yaitu strategi ekspositori. Dalam pembahasan ini penulis mengupas tentang pengertian, langkah-langkah melakukan pembelajaran ekpositori, kelebihan dan kekurangannya.

  BAB II

PEMBAHASAN


 A.    PENGERTIAN STRATEGI EKSPOSITORI

Strategi pembelajaran ekspositori adalah suatu proses pembelajaran dimana seorang guru langsung menyampaikan materi secara langsung dari seorang guru kepada muridnya dengan tujuan simurid dapat menguasai pelajaran secara optimal.[4]
Penggunaan metode ini didasarkan pada paradigma bahwa siswa yang diajar masih kosong dari ilmu yang akan transfer oleh guru kepada muridnya,[5]oleh karenanya seorang guru yang menggunakan stretegi ini lebih banyak menganndalkan kemampuan dalam berbicara dengan sistimatik. Sebab itu Strategi pembelajaran ekpositori banyak yang menganalogikannya dengan metode ceramah.
Dengan demikian dapat kita katakan strategi pembelajaran ekspositori merupakan pendekatan pembelajaran yang bisa kita golongkan sebagai “techer centred” yaitu strategi pemberlajan yang memfokuskan informasi bersumber dari guru yang artinya gurulah yang menjadi sumber ilmu pengetahuan dalam strategi ini. Dikatakan demikian sebab gurulah yang paling dominan. Dengan straregi ini seorang menyampaikan materi secara terstruktur tentu dengan harapan materi dapat di terima oleh siswa dengan baik.

B.     KARAKTERISTIK PEMBELAJARAN EKSPOSITORI
Sama halnya dengan strategi pembelajaran yang lainnya, strategi pembeljaran ekspositori juga mempunyai karakteristik diantaranya:
1.      Strategi ekspositori dilakukan dengan penyampaian materi secara verbal. Ini artinya kemampuan guru bertutur kata dalam menyampaikan meteri menjadi andalan utama, karena itu orang sering menganalogikannnya sebagai metode cerama.
2.      Materi yang diajarkan adalah materi yang sudah jadi, seperti pakta dan data, atau konsep-konsep tertentu yang harus dihafalkan, sehingga para peserta didik tidak lagi di tugaskan untuk mencari dalam sumber lainnya.
3.      Tujuan pembelajaran dengan Strategi ekspositori adalah siswa memiliki pemahaman yang benar dengan materi yang disampaikan dan mampu menguraikan kembali.[6]

C.    PRINSIP PEMBELAJARAN EKSPOSITORI
Dalam penggunaan model ekspositori terdapat prinsip pembelajaran yang harus di perhatiakan oleh setiap guru antara lain:
1.      Berorientasi pada tujuan
Walaupun penyampaian materi pelajaran secara langsung yang menjadi ciri utama dalam stretegi ini, namun tidak bermakna tujuan pembelajaran menjadi terabaikan akan tetapi menjadi salah satu pokok pertimbangan. Karena itu seorang guru harus merumuskan tujuan pembelajaran yang harus dicapai dengan menggunkan Strategi ekspositori seperti keriteria tingkah laku yang dapat di ukur dan kompetensi siswa yang akan dicapai oleh siswa.[7]

2.      Prinsip komunikasi
Proses pembelajaran dapat dikatan sebagai proses komunikasi yang merujuk pada proses penyampaian pesan dari seseorang (guru) kepada seseorang atau sebuah kelompok yang dalam hal ini adalah murid. Pesan yang dimaksud dalam komunikasi ini adalah materi pelajaran yang telah disusun secara terstruktru rapi dengan landasan tujuan yang hendak dicapai. Sehingga gurulah dalam hal ini yang menjdi sumber pesan dan siswa yang menjadi penerima pesan. Sistem komunikasi dikatan efektif jika sipenerima pesan dapat menangkap pesan dengan utuh, oleh karena itu, dalam perinsip komunikasi ini, seorang guru harus mampu menghilangkan gangguan komunikasi antara mereka.[8] Beberapa faktor yang dapat menggangu penerimaan siswa bisa bersumber dari guru, seperti kemampuan menjelaskan materi kurang baik, jumlah siswa yang terlalu banyak, ruangan yang terlalu ribut dan lain-lain.[9]
3.      Prinsip kesiapan
Dalam prinsip ini seorang guru berkewajiban menyipakan siswanya terlebih dahulu untuk menerima pesan atau materi baik yang berkaitan dengan fiskik atau fisikis. Sebab itu seorang guru tidak boleh memulai pembelajaran jika siswa belum siap untuk memulianya. Guru harus yakin bahwa anak sudah memiliki memori mori untuk diisi dengan mater pelajaran, dalam hal ini Wina sanjaya menganalogikannya dengan sebuah komputer yang akan di isi oleh file, maka sebuah komputer harus memiliki memori yang kosong untuk menyimpan file yang akan dimasukkan. [10]
4.      Prinsip keberlanjutan
Pada prinsip ini penggunaan strategi ekspositori diharahapkan siswa dapat mempelajari materi pelajaran lebih lanjut. Pembelajaran bukan hanya pada saat terjadi pertemuan antara siswa dan guru tetapi setelah itu diharapkan siswa dapat melakukan pencarian sendiri secara aktif.[11]  Seperti yang disampaiak Wina Sanjaya bentuk keberhasilan strategi ekspositori adalah manakala melalui proses penyaian dapat membawa siswa pada sikap yang mandari sehingga ia dapat belajar secara mandiri.[12]

D.    PROSEDUR PELAKSANAAN STRATEGI EKSPOSITORI
Menurut Wina Sanjaya, ada beberapa langkah dalam penerapan strategi Ekspositori yaitu:
1.      Persiapan (prepration)
Pada tapan ini seorang guru harus menyiapkan siswanya baik secara pisik dan fisikis, dalam pembelajaran dengan strategi ekspositori, tahapan persiapan merupakan tahapan yang sangat penting, sebab itu Sanjaya menganjurkan dalam tahapan ini hendaknya seorang guru membangkitkan motivasi siswa dengan memberikan sugesti yang positif.[13] Sebab motovasi seperti yang disebutkan oleh Pupuh dapat berfungsi sebagai pendorong untuk berbuat lebih.[14]
Selain pemberian motivasi, pada tahapan persiapan dianjurkan bagi guru untuk menyampaikan tujuan pembelajaran yang hendak dicapai. Dengan itu siswa akan mengerti apa yang akan mereka capai setelah mereka selesai belajar serta mau kemana mereka akan dibawa oleh guru. Dalam pandangan Sanjaya ini sangat penting dan hal ini juga yang banyak dilupakan oleh para guru.[15] 
Selanjutnya yang harus dilakukan oleh seorang guru adalah membuka pengetahun siswa yang lama dan mengaitkannya dengan pengetahuan baru yang akan disampaikan oleh guru. Sebab jika seorang guru menyampaikan pelajaran yang baru dan sama sekali asing bagi anak, maka anak akan kesulitan untuk menangkap materi yang diajarkan. [16] 
2.      Penyajian (presentation)
Penyajian merupakan langkah penyampaian materi pelajaran sesuai dengan yang telah dipersiapkan oleh guru. Yang harus diperhatikan oleh seorang guru adalah bagaiman agar materi pelajaran samapi kepada siswa dan ditangkap dengan baik dan dapat dipahami dengan mudah. Oleh karena itu ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam tahapan ini.
a.       Penggunaan bahasa
b.      Intonesi suara
c.       Menjaga kontak mata dengan siswa
d.      Menggunakan jok-jok yang menyegarkan. [17]
3.      Menghubungkan (correlation)
Langkah korelasi adalah langkah menghubungkan materi pelajaran dengan pengalaman siswa atau dengan hal lain yang memungkinkan siswa dapat menangkap keterkaitannya dalam struktur pengetahuan yang dimiliki. Selain itu korelasi juga bertujuan memberikan makna terhadap pelajaran, baik makna untuk memperbaiki struktur pengetahuan yang telah dimilikinya ataupun makna untuk meningkatkan kualitas kemampuan berfikir dan kemampuan motorik siswa.[18]
4.      Menyimpulkan (generalization)
Langkah menyimpulak adalah langkah untuk memahami inti, sehingga dalam tahapan ini siswa diharapkan dapat memaknai inti dari sebuah pelajaran yang disajikan oleh siswa. Selain itu menyimpulkan juga meberikan keyakinan kepada siswa tentang kebenaran suatu paparan sehingga para siswa tidak ragu dengan materi yang telah disampaikan. Sanjaya berbpendapat ada beberapa cara untuk menyimpulkan sebuah pelajaran. Pertama dengan cara mengulang kembali inti-ini pokok sebuah pelajaran. Kedua dengan memberikan pertanyaan yang relevan dengan materi yang disajikan.[19]
5.      Penerapan (aplication)
Langkah aplikasi adalah langkah untuk menunjukkan kemampuan siswa setelah mereka menyimak penjelasan guru. Langkah ini merupakan langkah yang sangat penting sebab dengan langkah ini seorang guru dapat mengumpulkan informasi tentang penguasaan dan pemahaman materi oleh siswa. Teknik yang bisa dilakukan dalam tahapan ini adalah pertama dengan memberikan tugas yang sesui dengan materi yang telah diajarkan. Kedua dengan memberikan tes dengan pelajaran yang telah disajikan.[20]

E.     KEUNGGULAN DAN KELEMAHAN METODE EKSPOSITORI
1.      Keunggulan
Starategi pembelajaran ekpositori merupakan strategi pembelajaran yang paling banyak dan sering digunakan, hal ini disebabkan strategi ini memiliki keunggulan diantranya:
a.        Dengan setrategi ini seorang guru dapat mengontrol keluasan materi yang diajarkan, dengan demikian guru dapat megetahui seberapa jauh seorang murid telah menguasai pelajaran.
b.      Setrategi ini sangat efektif untuk materi pelajaran yang harus dikuasai oleh siswa sangat luas, sementara waktu yang yang dimiliki untuk mengajarkannya sangat terbatas.
c.       Dapat dipergunakan untuk jumlah siswa yang sangat banyak.[21]
2.      Kelemahan
Menurut Muchlisin Riadi ada beberapa kelemahan yang ditemukan dlam penggunaan metode ekspositori diantranya:
a.       Strategi belajar mengajar ekpositori mungkin dapat dilakukan hanya pada siswa yang memiliki kemampuan mendengar dan menyimak secara baik.
b.      Srategi pembelajaran ini tentu kurang dapat mengakomodir perbedaan karakter setiap individu, baik perbedaan kemampuan, minat, pengetahuan,  bakat serta perbedaan gaya belajar siswa.
c.       Strategi  ini tidak mampu utnuk mengembangkan kemampuan siswa dalam kemampuan sosialisasi, hubungan interpersonal dan kemampuan kritis.
d.      Keberhasilan strategi ini sangat tergantung pada guru seperti persiapan, pengetahuan, rasa percaya diri, semangat, antusias serta kemampuan mengolah kelas.
e.       pengetahuan yang dimiliki siswa akan tergantung pada apa yang diberikan oleh guru saat proses belajar mengajar. Sebab metode pembelajaran ini hanya berjalan monolog.[22] 

 KESIMPULAN

Strategi ekpositori sesungguhnya sebuah metode yang telah lapa dipake oleh setip pengajar, bahkan ia terkadang digabungkan dengan metode lain. Seperti halnya dengan strategi pembelajaran yang lainnya, strategi ekspositori juga memiliki prinsip-prinsip, prosedur, kelebihan-kelebihan dan kekurangan-kekurangan seperti yang telah dipaparka. Strategi ekspositori sejatinya hanyalah sebuah strategi dari sekian banyak strategi yang ada. Maka pengemasan, perencanaan dan penyampaina dan pelaksanaannya terpulang pada guru itu, gurulah yang mengetahui strategi mana yang tepat pada waktu tertentu, dan strategi mana yang tepat pada waktu dan keaadaan tertentu.

 
DAFTAR PUSTAKA

Team didaktik metodik, Pengantar Didakti Metodik Kurikulum PBM . Jakarta: PT. Grafindo Persada 1993 Cetakan ke 5.
Ahmadi, Abu. Joko Tri Prasetya, Strategi Belajar Mengajar. Bandung: Pustaka Setia, 2005.
Abdurrahman, Mulyono. Anak kesulitan Belajar, Teori, Diagnosis dan Remediasinya. Jakarta: PT. Rineka Cipta, 2012.
Apa Itu Ekspository Learning, www.blog-guru.web.id diakses pada tanggal 25 April 2016 pukul 21. 56 wib.
Khairani, Kisma Nst. (2014) Hubungan Strategi  Pembelajaran Ekspositori Terhadap Motivasi Belajar Intraksi Sosial dan Komunikasi  Matetamatika Siswa Kelas VII SMP Negeri I Siabu.  Skripsi. Tidak Dipublikasikan. Padangsidimpuan: IAIN Padang Sidimpuan  
Sanjaya, Wina. Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan. Jakarta: Kencana  2006.
Fathurrohman, Pupuh. M Sobri Sutikno, Strategi Belajara Mengajar Melalui Penanaman Konsep Umum dan Konsep Islam, (Bandung, PT Refika Aditama, Cetakan Keenam, 2014)
Kusmayanto, Penerapan Pembelajaran Dalam Meningkatkan Kualitas Kegiatan Belajar Mengajar, www.kemenag.go.id diakses pada tanggal 27 bualan April 2016 Pukul 21.32 wib











[1] Team didaktik metodik, Pengantar Didakti Metodik Kurikulum PBM, (Jakarta: PT. Grafindo Persada 1993) Cetakan ke 5, hlm. 1
[2] Abu Ahmadi, Joko Tri Prasetya, Strategi Belajar Mengajar, (Bandung: Pustaka Setia, 2005) hlm.11
[3] Mulyono Abdurrahman, Anak kesulitan Belajar, Teori, Diagnosis dan Remediasinya (Jakarta: PT. Rineka Cipta, 2012), hlm. 8
[4] Kisma Khairani Nst, (2014) Hubungan Strategi  Pembelajaran Ekspositori Terhadap Motivasi Belajar Intraksi Sosial dan Komunikasi  Matetamatika Siswa Kelas VII SMP Negeri I Siabu.  Skripsi. Tidak Dipublikasikan. Padangsidimpuan: IAIN Padang Sidimpuan
[5] Apa Itu Ekspository Learning, www.blog-guru.web.id diakses pada tanggal 25 April 2016 pukul 21. 56 wib.
[6] Wina Sanjaya, Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan, (Jakarta: Kencana  2006), hlm.179
[7] Wina Sanjaya, Strategi Pembelajaran...,hlm.181
[8] Wina Sanjaya, Strategi Pembelajaran...,hlm.182
[9] Pupuh Fathurrohman, M Sobri Sutikno, Strategi Belajara Mengajar Melalui Penanaman Konsep Umum dan Konsep Islam, (Bandung: PT Refika Aditama, Cetakan Keenam, 2014), hlm. 92
[10] Wina Sanjaya, Strategi Pembelajaran...,hlm.182
[11] Kusmayanto, Penerapan Pembelajaran Dalam Meningkatkan Kualitas Kegiatan Belajar Mengajar, www.kemenag.go.id diakses pada tanggal 27 bualan April 2016 Pukul 21.32 wib
[12] Wina Sanjaya, Strategi Pembelajaran...,hlm.183
[13] Wina Sanjaya, Strategi Pembelajaran...,hlm.185
[14] Pupuh Fathurrohman, M Sobri Sutikno, Strategi Belajara Mengajar ...,hlm. 20
[15] Wina Sanjaya, Strategi Pembelajaran...,hlm.185
[16] Wina Sanjaya, Strategi Pembelajaran...,hlm.187
[17] Wina Sanjaya, Strategi Pembelajaran...,hlm.188
[18] Wina Sanjaya, Strategi Pembelajaran...,hlm.189
[19] Wina Sanjaya, Strategi Pembelajaran...,hlm.190
[20] Wina Sanjaya, Strategi Pembelajaran...,hlm.190
[21] Wina Sanjaya, Strategi Pembelajaran...,hlm.191
[22] Wina Sanjaya, Strategi Pembelajaran...,hlm.192